Dirgahayu Republik Indonesia ke - 81 Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur | Dirgahayu Republik Indonesia ke - 81 Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur

Headline

#Trending

Informasi

Opini

TEGUHKAN INTEGRITAS

Sleman – #TemanPemilih, KPU Kabupaten Sleman melaksanakan upacara bendera yang diselenggarakan pada Senin (07/09) pukul 08.00 WIB yang bertempat di halaman kantor KPU Kabupaten Sleman. Upacara dipimpin oleh Arif Setiawan selaku Anggota KPU Kabupaten Sleman yang bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya Arif menegaskan pentingnya meneguhkan integtitas. Membuka amanatnya, Arif menyampaikan bahwa sebagian besar aktivitas pegawai dilaksanakan di kantor, sehingga KPU Kabupaten Sleman kini telah menjadi "rumah kedua" bagi pegawainya. Sejauh ini, KPU Kabupaten Sleman terus menunjukkan berbagai kemajuan, baik dari segi sarana dan prasarana maupun kualitas pelayanan publik. Oleh karena itu, seluruh pegawai diharapkan dapat terus mempertahankannya dengan baik. Selain aspek pelayanan, penguatan integritas juga menjadi penekanan utama yang harus ditanamkan oleh setiap pegawai. Integritas dinilai sebagai fondasi penting yang mampu menghindarkan diri dari perbuatan melanggar aturan. Hal ini menjadi cerminan bahwa KPU Kabupaten Sleman berkomitmen kuat menjaga lingkungan kerja yang bersih dari praktik korupsi. "Integritas menjadi hal utama yang wajib dipegang teguh oleh seluruh pegawai selain peningkatan pelayanan. Nilai ini menjadi benteng utama yang menyelamatkan kita dari tindakan yang melenceng, serta harus dilandasi oleh kejujuran serta keimanan.” ungkap Arif. Di akhir amanatnya, Arif mengajak seluruh pegawai untuk mendoakan keselamatan bangsa Indonesia agar terhindar dari berbagai marabahaya. Menyikapi situasi bencana alam saat ini, para pegawai diimbau untuk selalu waspada dan menjaga kesehatan. Selain itu, menjaga, melestarikan, dan berbuat baik terhadap alam sekitar juga pengingat bersama. (agl)

TEPAT DALAM PENGELOLAAN WAKTU

Sleman – #TemanPemilih, KPU Kabupaten Sleman melaksanakan apel rutin pada Senin (31/08) pukul 08.00 WIB yang bertempat di halaman kantor KPU Kabupaten Sleman. Apel dipimpin oleh Huda Al Amna selaku Anggota KPU Kabupaten Sleman yang bertindak sebagai pembina apel. Dalam amanatnya, Huda menekankan ketepatan dalam pengelolaan waktu. Huda membuka amanatnya dengan menyampaikan mahfudzat Arab, ”waktu ibarat pedang”. Hal tersebut memberikan pandangan dalam ketepatan pengelolaan waktu  sebagai wujud integritas, profesionalitas, dedikasi yang tinggi, dan juga penghormatan terhadap masyarakat, diri sendiri, dan rekan kerja.   Dalam kesempatan tersebut, Huda menjelaskan prinsip pengelolaan waktu yang memunculkan kesadaran memimpin diri sendiri. Disiplin waktu harus lahir dari kesadaran internal, bukan sekadar karena takut pada sanksi. Pengelolaan waktu yang tepat juga akan mencerminkan sebuah integritas, di mana setiap waktu yang dikelola seharusnya dapat menghasilkan manfaat nyata. ‎"Memanfaatkan waktu dengan baik merupakan cerminan integritas. Menghargai waktu bukan sekadar persoalan efisiensi teknis, melainkan komitmen moral, karena setiap waktu yang kita kelola dengan jujur, disiplin, dan penuh tanggung jawab adalah bukti nyata bahwa integritas kita benar-benar hidup dalam tindakan." tegas Huda. Huda juga mendorong komitmen seluruh pegawai untuk menyelesaikan tugas secara tepat waktu sebagai bentuk keandalan dalam melaksanakan tanggung jawab. Oleh karena itu, setiap upaya dalam menyelesaikan tugas perlu dilakukan secara maksimal. Pengelolaan waktu yang baik juga dapat menjadi sarana untuk mengevaluasi akuntabilitas diri melalui refleksi terhadap kesesuaian dan ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. (agl)

ORIENTASI KEPADA PENERIMA LAYANAN

Sleman – #Teman Pemilih, KPU Kabupaten Sleman melaksanakan apel rutin pada Senin (10/08) pukul 08.00 WIB yang bertempat di halaman kantor KPU Kabupaten Sleman. Apel dipimpin oleh Noor Aan Muhlishoh selaku Anggota KPU Kabupaten Sleman yang bertindak sebagai pembina apel. Dalam amanatnya, Noor Aan menekankan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) sebagai bagian dari reformasi birokrasi. Pembangunan ZI menuju WBK merupakan bagian dari reformasi birokrasi yang menjadi tugas kita bersama. Hal tersebut disampaikan oleh Noor Aan dalam mengawali amanatnya. Pembangunan ZI diibaratkan membangun dari dasar hingga atap, dari fundamental hingga finishing, yang semuanya merupakan bagian dari pembangunan ZI. ”Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas (ZI) sebagai bagian dari reformasi birokrasi, yaitu bahwa sudut pandang yang digunakan harus berorientasi pada penerima layanan. Pertama, memastikan adanya rasa keadilan bagi penerima layanan. Kedua, memberikan kepastian dalam proses dan pelayanan. Ketiga, memastikan bahwa pelayanan yang diberikan memberikan kemanfaatan bagi penerima layanan.” Menurut Noor Aan, demokrasi adalah sesuatu yang dibangun melalui kebiasaan, demikian pula dengan pembangunan ZI menuju WBK yang harus dimulai dari hal-hal kecil. Kebiasaan yang dimulai dari hal sederhana akan membentuk pola kerja yang baik. Dengan demikian, ketika menghadapi pekerjaan yang lebih besar, seluruh pegawai telah terbiasa menerapkan pola kerja sesuai dengan standar ZI. Dalam akhir amanatnya, Noor Aan berpesan kepada seluruh pegawai bahwa pembangunan ZI merupakan tanggung jawab seluruh jajaran. Apabila dalam pelaksanaan simulasi terdapat dokumen yang diperlukan, setiap subbagian harus mampu memenuhi dan menyiapkannya secara tepat waktu. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan mewujudkan pembangunan ZI menuju WBK. (agl)

KEDEPANKAN PELAYANAN DALAM BEKERJA

Sleman – #TemanPemilih, KPU Kabupaten Sleman melaksanakan upacara bendera yang diselenggarakan pada Senin (03/08) pukul 08.00 WIB yang bertempat di halaman kantor KPU Kabupaten Sleman. Upacara dipimpin oleh Sekretaris KPU Kabupaten Sleman, Yuyud Futrama yang bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanat ditekankan pentingnya bekerja dengan mengedepankan pelayanan. Dalam bekerja, kita tidak boleh takut menerima kritik ataupun melakukan kesalahan. Sikap terbuka terhadap masukan serta kemauan untuk terus belajar merupakan salah satu kunci dalam bekerja. Bekerja seharusnya tidak hanya berorientasi pada pendapatan namun perlu dilandasi dengan semangat pelayanan. Bekerja berarti melaksanakan tugas dan tanggung jawab, sedangkan melayani memiliki makna melaksanakan pekerjaan dengan hati yang tulus, penuh keikhlasan, dan rasa senang, tanpa memperhitungkan apa yang akan diperoleh. Sebagai abdi negara, setiap aparatur dituntut untuk mengedepankan pelayanan, baik kepada pihak internal maupun eksternal. Dalam perjalanan bekerja tentu pernah mengalami kejenuhan, kebosanan, atau menurunnya motivasi. Untuk mengatasi kondisi tersebut, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memetakan hal-hal yang disukai maupun tidak. Setelah itu membandingkan keduanya. Apabila ternyata lebih banyak hal positif yang dimiliki, maka hal tersebut dapat menjadi pengingat untuk tetap bersyukur dan memberikan kontribusi terbaik. Sebaliknya, jika terdapat banyak kendala, jadikan hal tersebut sebagai bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan. ”Dalam bekerja, kita perlu mengedepankan nilai-nilai luhur yang selaras dengan filosofi budaya Jawa melalui posisi duduk, yaitu bersila, bersimpuh, dan lesehan. Bersila melambangkan kesetaraan. Bersimpuh melambangkan sikap hormat. Lesehan melambangkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam memberikan pelayanan yang adil, santun, dan tulus. Dengan demikian, setiap pekerjaan tidak hanya diselesaikan sebagai kewajiban, tetapi juga dilaksanakan dengan semangat melayani.” pungkas Yuyud. (agl)

Publikasi

🔊 Putar Suara